Kisah inspiratif Marbut Masjid Al-Lathiif berhasil sarjanakan 2 anak, perjuangan penuh dedikasi yang bikin netizen takjub!
Siapa sangka seorang marbut bisa mengubah nasib dua anak menjadi sarjana? Dari kerja keras hingga strategi unik, kisah Marbut Masjid Al-Lathiif ini penuh inspirasi dan bikin netizen penasaran. Simak Kisah dan Inspirasi perjuangan luar biasa yang membuktikan bahwa tekad dan dedikasi mampu mencetak prestasi gemilang!
Awal Kehidupan Dan Peran Mumuh Muhtar
Mumuh Muhtar, pria 56 tahun asal Majalengka, kini dikenal sebagai salah satu marbut Masjid Al‑Lathiif di Kota Bandung. Sejak 2017 ia mengabdikan diri di masjid ini, menjalankan tugas harian sebagai pengurus dan muadzin.
Aktivitas masjid menjelang berbuka Ramadan terlihat sangat ramai. Ada jemaah yang membaca Al‑Quran, mengikuti kajian, dan relawan menyiapkan takjil gratis untuk berbuka puasa. Mumuh bukan sekadar mengurus kebersihan dan azan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam basis pergerakan pemuda hijrah di lingkungan masjid tersebut.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Perjalanan Mumuh Dari Jemaah Biasa
Dulu Mumuh hanyalah seorang jemaah biasa yang rutin datang ke Masjid Al‑Lathiif. Namun suatu hari, ia dikenalkan kepada seorang ustaz yang mengajaknya untuk mulai azan di masjid tersebut.
Awalnya, ia hanya mampu azan pada hari Jumat karena pekerjaan utamanya adalah berdagang. Seiring waktu, Ketua DKM meminta Mumuh mengabdikan dirinya sepenuhnya sebagai marbut. Keputusan ini bukan hal mudah karena penghasilan sebagai marbut jauh lebih rendah dibanding kehidupan Mumuh sebelumnya sebagai pedagang dan pengepul barang bekas.
Baca Juga: Terkuak! Sisi Gelap Frans Kaisiepo Yang Selama Ini Disembunyikan Sejarah
Tantangan Hidup Sebagai Marbut
Mumuh mengisahkan bagaimana dirinya beralih dari pekerjaan yang lebih menguntungkan menjadi marbut dengan penghasilan lebih kecil. Meski penghasilannya sekitar Rp2,5 juta per bulan, ia merasa pekerjaan ini membawa ketenangan spiritual yang tak bisa diukur dengan materi. Kedekatan dengan jamaah muda dan relawan membuat tugas yang berat terasa lebih ringan dan penuh makna bagi beliau.
Keberhasilan Mendidik Dua Anak
Walau kehidupan Mumuh tidak banyak berubah secara finansial, dua anaknya berhasil mengecap pendidikan tinggi. Anak pertama Mumuh kini bekerja setelah lulus dari sebuah perguruan tinggi ekonomi, sementara yang kedua baru saja wisuda dari Politeknik STIA LAN Bandung. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ketekunan dan nilai kehidupan yang ditanamkan dalam keluarga mampu mencetak generasi yang berpendidikan tinggi.
Makna Dan Inspirasi Di Balik Kisah Ini
Kisah hidup Mumuh menunjukkan bahwa profesi sederhana seperti marbut tidak menghalangi seseorang untuk mencetak prestasi dalam keluarga. Perjuangan hidup dan pilihan yang diambilnya menjadi inspirasi tersendiri bagi jamaah dan komunitas di Masjid Al‑Lathiif. Dengan kerja keras, nilai spiritual, dan integritas, Mumuh membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya soal harta, tetapi juga soal kepedulian, dedikasi, dan keteladanan.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.google.com
- Gambar Kedua dari www.google.com