Masjid Sidowayah di Klaten menyimpan jejak sejarah religi yang bertahan hingga kini dan menjadi saksi perkembangan kota.

Berdiri Sejak Lama, Masjid Sidowayah Simpan Sejarah Religi Klaten

Di tengah perkembangan pesat pusat Kota Klaten, Masjid Sidowayah tetap berdiri kokoh sebagai penanda perjalanan panjang sejarah religi setempat. Bangunan bersejarah ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu tumbuhnya kehidupan spiritual dan sosial masyarakat dari masa ke masa. Keberadaannya menyimpan kisah yang layak ditelusuri lebih dalam.

Jangan lewatkan berbagai informasi terbaru dan kisah paling viral lainnya yang kami sajikan secara eksklusif hanya di Kisah dan Inspirasi.

Jejak Tertua Di Jantung Kota Klaten

Masjid Sidowayah menjadi satu-satunya masjid tua yang masih bertahan di pusat Kota Klaten. Keberadaannya tetap kokoh di tengah arus modernisasi yang mengubah wajah perkotaan. Masjid ini berada di Jalan Sulawesi, Kampung Sidowayah, Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah. Lokasinya sangat strategis, hanya sekitar 100 meter dari Alun-Alun Klaten dan dekat dengan Stadion Trikoyo.

Lingkungan sekitar masjid juga menyimpan jejak sejarah lain. Di sisi timur berdiri bangunan lama yang kini difungsikan sebagai kantor dinas, sementara tak jauh dari sana terdapat area makam kuno, termasuk makam Mbah Mulat.

Arsitektur Khas Warisan Mataram

Bangunan utama masjid menampilkan bentuk joglo dengan ukuran sekitar 9 x 12 meter. Atapnya berbentuk tajug berlapis yang identik dengan arsitektur masjid era Mataram Islam. Di ruang utama, empat tiang kayu berdiri kokoh sebagai penopang atap. Hiasannya sederhana, hanya berupa takik tanpa ukiran rumit, mencerminkan gaya klasik yang bersahaja.

Serambi masjid ditopang delapan tiang kayu serupa, sementara pintu masuk berbahan kayu tebal menyerupai gerbang keraton. Temboknya tebal tanpa tulangan besi, dan lantainya masih menggunakan tegel lama berbahan pasir halus.

Baca Juga: Bung Tomo, Dari Masa Kecil di Surabaya Hingga Jadi Pahlawan Nasional

Misteri Tahun Pendirian

Berdiri Sejak Lama, Masjid Sidowayah Simpan Sejarah Religi Klaten

Tidak ada prasasti atau angka tahun yang menunjukkan kapan masjid ini dibangun. Meski demikian, jaraknya yang dekat dengan bekas Benteng Engelenburg yang berdiri sejak 1804 memperkuat dugaan usianya yang tua.

Takmir masjid, Afri Asykari, menyebut cerita turun-temurun menyatakan masjid ini dahulu menjadi satu kesatuan dengan alun-alun dan kantor bupati pada masa pemerintahan keraton. Hal tersebut menandakan peran pentingnya dalam tata kota lama. Sebagian besar struktur bangunan disebut masih asli. Perubahan hanya terjadi pada beberapa bagian seperti kaca jendela, keramik dinding, dan penggantian genteng, tanpa mengubah bentuk dasar konstruksi.

Bukti Sejarah Dalam Peta Lama

Keberadaan Masjid Sidowayah tercatat dalam peta Belanda tahun 1930 yang tersimpan di arsip Universitas Leiden. Fakta ini menunjukkan bahwa bangunan tersebut sudah berdiri sebelum masa itu. Pemerhati sejarah Klaten, Hari Wahyudi, menilai gaya arsitektur masjid memiliki kemiripan dengan bangunan yang dipengaruhi Keraton Solo. Ciri seperti mustaka, serambi, dan susunan tiang utama menguatkan dugaan tersebut.

Ia juga menyebut letaknya yang berada di dekat rumah Tumenggungan—pejabat setingkat bupati pada era Hindia Belanda—mendukung asumsi bahwa masjid ini memiliki keterkaitan erat dengan pusat pemerintahan lama.

Status Cagar Budaya Dan Harapan Pelestarian

Meski memiliki nilai historis tinggi, masjid ini belum ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya resmi. Namun, pemerintah daerah telah memasukkannya dalam daftar objek diduga cagar budaya (ODCB). Pendataan pernah dilakukan pada 2017 oleh dinas terkait. Langkah tersebut menjadi awal penting untuk proses kajian lebih lanjut sebelum penetapan status resmi.

Keberadaan Masjid Sidowayah bukan sekadar simbol religi, melainkan warisan sejarah kota yang patut dijaga. Di tengah perkembangan zaman, bangunan ini tetap menjadi penanda identitas dan pengingat akar budaya Klaten yang tak lekang oleh waktu.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari www.detik.com
  • Gambar Kedua dari www.goodnewsfromindonesia.id

By Callyn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *